📊 Market Overview — Senin, 5 Oktober 2026
📈 IHSG
📈 IHSG: 6.118,86 (+1,36% / +81,97 poin)
IHSG berhasil bangkit dari tekanan dan ditutup di zona hijau setelah dibuka di 6.055,16. Indeks sempat melemah ke titik terendah 6.019,84 menjelang pukul 11.00 WIB, lalu berbalik arah dan menguat bertahap — akselerasi terutama terjadi di sesi sore setelah pukul 15.00 WIB hingga menyentuh high intraday 6.119,22. Pendorong utama adalah berkurangnya ekspektasi hawkish The Fed setelah data tenaga kerja AS yang lebih lemah, yang mengangkat bursa Asia secara keseluruhan. Rentang acuan: support di 6.000–6.020, resistance di 6.120–6.150.
Breadth sangat positif: 547 saham naik, 252 stagnan, dan hanya 164 saham melemah.
🏆 Top 10 Gainers
| # | Ticker | Nama | Harga | Change% | Sektor | Volume |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | PPRI | Paperocks Indonesia | 186 | +34,78% | Barang Baku | 757K |
| 2 | MBSS | Mitrabahtera Segara Sejati | 4.400 | +21,21% | Energi | 172K |
| 3 | STRK | Lovina Beach Brewery | 61 | +17,31% | Barang Konsumen Primer | 599K |
| 4 | MPIX | Mitra Pedagang Indonesia | 224 | +16,67% | Teknologi | 517K |
| 5 | PKPK | Paragon Karya Perkasa | 6.800 | +16,24% | Energi | 85K |
| 6 | COCO | Wahana Interfood Nusantara | 132 | +14,78% | Barang Konsumen Primer | 7,9M |
| 7 | BUVA | Bukit Uluwatu Villa | 675 | +14,41% | Barang Konsumen Non-Primer | 1,4M |
| 8 | KRAS | Krakatau Steel (Persero) | 238 | +10,19% | Barang Baku | 67K |
| 9 | PACK | Abadi Nusantara Hijau Investama | 470 | +9,81% | Barang Baku | 4,8M |
| 10 | ARKO | Arkora Hydro | 2.920 | +9,77% | Infrastruktur | 72K |
Papan gainer didominasi second/third liner di sektor Barang Baku (PPRI, KRAS, PACK) dan Energi (MBSS, PKPK). PPRI +34,78% dan MBSS +21,21% memimpin reli, diperkuat KRAS +10,19% seiring tema pemulihan industri logam/baja. Volume jumbo di COCO (7,9M) dan PACK (4,8M) menandakan spekulasi ritel yang ramai. Di deretan pengungkit IHSG (big cap), BYAN, BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi motor indeks hari ini.
🔻 Top 10 Losers
| # | Ticker | Nama | Harga | Change% | Sektor | Volume |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | MGLV | Panca Anugrah Wisesa | 13.800 | -7,07% | Barang Konsumen Non-Primer | 10K |
| 2 | CSIS | Cahayasakti Investindo Sukses | 168 | -6,67% | Properti & Real Estat | 42K |
| 3 | LOPI | Logisticsplus International | 57 | -5,00% | Transportasi & Logistik | 293K |
| 4 | NASI | Wahana Inti Makmur | 177 | -4,84% | Barang Konsumen Primer | 107K |
| 5 | SOCI | Soechi Lines | 625 | -3,85% | Energi | 155K |
| 6 | DOOH | Era Media Sejahtera | 352 | -3,83% | Barang Konsumen Non-Primer | 1,7M |
| 7 | BSSR | Baramulti Suksessarana | 5.050 | -3,81% | Energi | 18K |
| 8 | GOTO | GoTo Gojek Tokopedia | 29 | -3,33% | Teknologi | 189,5M |
| 9 | ENRG | Energi Mega Persada | 1.030 | -3,29% | Energi | 1,1M |
| 10 | ELTY | Bakrieland Development | 30 | -3,23% | Properti & Real Estat | 3,5M |
Sehari setelah ditutup menguat, GOTO (-3,33%) kembali menjadi penekan indeks dan top sell asing — nilai transaksinya jumbo dengan volume 189,5 juta saham. Saham penekan IHSG lain dari kalangan big cap: DCII, CASA, GOTO, AMMN, dan UNTR. Tekanan juga menyasar kelompok Energi (SOCI, BSSR, ENRG) yang justru cenderung bergerak berlawanan dengan pasar yang hijau — koreksi wajar setelah reli komoditas pekan lalu.
🌍 Net Foreign Flow
- Net Foreign (seluruh pasar): -Rp123,1 miliar (net sell) — membaik signifikan dari -Rp1,31 triliun pada Jumat (2/10)
- Foreign Buy: Rp3,15 triliun · Foreign Sell: Rp3,27 triliun (pasar reguler)
- Net Foreign (universe database, 225 saham): -Rp191,1 miliar
- Total Nilai Transaksi: Rp9,12 triliun
- Volume: 396,35 juta lot
- Breadth: 547 saham naik · 164 turun · 252 stagnan
Meski IHSG ditutup +1,36%, asing masih net sell — namun tekanannya menyusut drastis dibanding Jumat. GOTO bertahan sebagai top sell asing, sementara di sisi beli asing mengakumulasi BMRI dan beberapa saham berkapitalisasi kecil. Sektor dengan inflow asing terbesar (universe DB): Barang Baku (+Rp43,8 M) dan Barang Konsumen Primer (+Rp11,5 M). Outflow asing terdalam: Teknologi (-Rp104,5 M), Perindustrian (-Rp82,9 M), dan Energi (-Rp30,4 M).
🏭 Sektor Performance
(Rata-rata perubahan & net foreign berbasis universe database 225 saham)
| Sektor | Jumlah | Rata-rata Change% | Net Foreign (M) |
|---|---|---|---|
| Barang Baku | 36 | +3,85% | +43,8 M |
| Properti & Real Estat | 17 | +3,33% | -12,5 M |
| Barang Konsumen Non-Primer | 26 | +2,96% | -8,1 M |
| Perindustrian | 15 | +2,90% | -82,9 M |
| Teknologi | 10 | +2,88% | -104,5 M |
| Barang Konsumen Primer | 33 | +2,62% | +11,5 M |
| Infrastruktur | 23 | +2,53% | -11,8 M |
| Energi | 38 | +2,29% | -30,4 M |
| Kesehatan | 8 | +2,09% | +5,5 M |
| Keuangan | 15 | +1,82% | -2,6 M |
| Transportasi & Logistik | 4 | -0,42% | +0,9 M |
Hampir seluruh sektor hijau — hanya Transportasi & Logistik yang terkoreksi tipis. Berdasar indeks sektoral IDX (seluruh pasar), Infrastruktur memimpin dengan +4,2%, disusul Properti +2,3% dan Energi +2%. Barang Baku menjadi sektor paling eksplosif di universe DB (+3,85%) berkat reli KRAS/PACK/PPRI.
📰 Market News
IHSG Ditutup Naik 1,36% ke 6.118,86
IHSG menguat 81,97 poin ke 6.118,86. Pendorong utama: sektor infrastruktur (+4,2%), properti (+2,3%), dan energi (+2%). Saham pengungkit: BYAN, BBCA, BBRI, BMRI; penekan: DCII, CASA, GOTO, AMMN, UNTR. Nilai transaksi Rp9,12 triliun (396,35 juta lot). Sumber: CNBC Indonesia
IHSG Ikuti Bursa Asia, Ekspektasi Dovish The Fed
Bursa regional Asia menguat setelah data pekerjaan AS yang lebih lemah mengurangi tekanan pada The Fed untuk terus memperketat kebijakan moneter — pasar kini mengharapkan sikap dovish pada pertemuan Oktober 2026. Sumber: ANTARA News
IHSG Dibuka Menguat: BBCA, BBRI, TLKM ke Zona Hijau
IHSG dibuka menguat ke 6.055,15 (+0,71% sesaat setelah pembukaan) dengan saham bank besar dan telekomunikasi menghijau. Pasar masih mencermati konflik Timur Tengah dan kebijakan The Fed. Sumber: Bisnis.com
OJK: IHSG September Koreksi 6,96%, Asing Net Sell Rp10,24 Triliun
Dalam konferensi pers RDKB Senin ini, OJK merilis data pasar modal September 2026: IHSG terkoreksi 6,96% MoM, asing mencatat net sell Rp10,24 triliun, dan 29 emiten menjajaki IPO dengan target dana Rp26,47 triliun. Jumlah investor pasar modal 32,17 juta (+57,96% YTD). Sumber: Emiten.org (data OJK)
IHSG Berpeluang Rebound Q4 2026, Tapi Ruang Terbatas
Mirae Asset menilai IHSG masih punya ruang rebound di kuartal IV, namun pemulihan terbatas karena tekanan rupiah, tingginya yield obligasi AS, dan arus keluar dana asing. Sumber: Kontan
Net Sell Asing Menyusut ke Rp123 Miliar, GOTO Kembali Top Sell
Net sell asing membaik dari -Rp1,31 T (2/10) menjadi -Rp123,10 miliar (5/10). Nilai beli asing turun ke Rp3,15 T dan jual ke Rp3,27 T di pasar reguler. GOTO bertahan di posisi top sell. Sumber: IDNFinancials
🌏 Macro & Global
100 Negara Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Akibat Konflik Timur Tengah
Laporan UNDP/DCO "From Shock to Resilience" mencatat 100 negara merevisi turun proyeksi pertumbuhan akibat konflik Timur Tengah — lewat lonjakan harga energi, pangan & pupuk, gangguan jalur perdagangan, biaya transportasi, dan tekanan fiskal. Dampak sistemik bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Sumber: Kompas.com
Harga Minyak Turun ke ~US$101 Setelah G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan Darurat
Brent berjangka turun 35 sen (-0,34%) ke US$101,90/barel, WTI di US$90,49 (-0,68%). Penurunan dipicu pelepasan 100 juta barel stok cadangan darurat oleh negara G7 serta meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah. Ini kabar melegakan bagi inflasi domestik, meski harga masih jauh di atas normal. Sumber: CNN Indonesia
Ekspor Timur Tengah Mengalir, Minyak Turun di Awal Pekan
Pasokan bertambah dari kenaikan ekspor Timur Tengah, meredam kekhawatiran berlanjutnya kerusakan infrastruktur energi di Teluk akibat perang yang melibatkan Iran. Sumber: Merdeka.com
Perang Iran & Hormuz Membentuk Ulang Outlook Inflasi Global
Situasi Selat Hormuz yang masih ditutup dan serangan Houthi terhadap kilang Aramco di Arab Saudi membuat pasar memperlakukan Gulf sebagai masalah inflasi & suku bunga, bukan panic safe-haven. Brent ~US$102, yield US Treasury 10Y ~5,18%, emas US$4.137 (-3% WoW). Sumber: Modern Diplomacy
Higher Oil, Higher Rates? Dampak Perang Iran ke Inflasi Global
Analisis tiga skenario Forbes Middle East: perang Iran berpotensi menahan inflasi global di level tinggi dan menunda penurunan suku bunga — faktor risiko utama bagi aset berisiko Indonesia. Sumber: Forbes Middle East
Penggerak Pasar Global 5-9 Oktober: Hormuz Masih Buntu
Iran menegaskan Selat Hormuz tetap tertutup sampai Washington memenuhi tujuh syaratnya. UKMTO melaporkan serangan terhadap dua kapal dekat Oman/Iran selama akhir pekan. Pasar menanti arah minyak, dolar, dan sikap The Fed. Sumber: Vibiznews
IMF: Dampak Perang AS–Iran Sudah Tertanam dalam Ekonomi Global
IMF menilai guncangan dari konflik AS–Iran telah terinternalisasi ke dalam proyeksi ekonomi global — pasar tidak lagi memperlakukan sebagai kejutan sesaat, melainkan risiko struktural. Sumber: Bisnis360 Media
📝 Rangkuman
1. Kondisi Pasar. IHSG memulai pekan dengan rebound meyakinkan: ditutup menguat +1,36% ke 6.118,86, setelah sempat tertekan ke 6.019,84 sebelum berbalik naik di sesi sore. Breadth sangat positif (547 naik vs 164 turun) dengan nilai transaksi Rp9,12 triliun. Katalis utama adalah meredanya ekspektasi hawkish The Fed pasca data tenaga kerja AS yang lemah — mengangkat bursa Asia secara serempak dan memberi ruang bagi aset berisiko domestik untuk pulih.
2. Sektor & Saham Menonjol. Hampir seluruh sektor hijau, dipimpin Barang Baku (+3,85%), Properti (+3,33%), dan Infrastruktur. Papan gainer dikuasai second/third liner — PPRI +34,78%, MBSS +21,21%, KRAS +10,19% — sementara big cap BYAN, BBCA, BBRI, BMRI menjadi motor indeks. Di sisi negatif, GOTO (-3,33%) kembali menekan indeks dan menjadi top sell asing; saham energi seperti SOCI, BSSR, ENRG turun berlawanan arah pasar. Secara agregat asing masih net sell, namun tekanannya menyusut drastis ke -Rp123,1 miliar dari -Rp1,31 triliun di hari Jumat.
3. Katalis. Pasar dibayangi tiga hal: harga minyak yang masih tinggi (~US$101/barel) meski turun setelah G7 melepas cadangan darurat, kebuntuan Selat Hormuz dan ketegangan AS–Iran–Houthi, serta tingginya yield US Treasury (~5,18%) yang menekan rupiah dan memicu outflow. Di domestik, OJK melaporkan IHSG September terkoreksi 6,96% MoM dengan net sell asing Rp10,24 triliun, namun optimisme rebound Q4 muncul — meski ruangnya diperkirakan terbatas selama tekanan global belum mereda.
Report oleh Supri Spinach | 2026-10-06_19-03 WIB (data perdagangan: Senin, 5 Oktober 2026 — data 6 Okt belum tersinkron di database)