📊 Market Overview — 24 Juni 2026


📈 IHSG

📉 IHSG: 5.884 (-3,56%)

IHSG ditutup ambles 3,56% ke level 5.884 pada Rabu (24/6), melanjutkan tren negatif setelah Selasa ditutup di 6.101. Pergerakan hari ini sangat volatil: sesi I sempat anjlok 1,62% ke 6.002, sempat melesat lebih dari 1% merespons pengumuman MSCI, namun akhirnya ambrol ke level penutupan 5.884 — level terendah dalam lebih dari 4 tahun terakhir. Sentimen negatif datang dari tensi AS-Iran yang memanas kembali, dan aksi jual besar-besaran di saham energi dan infrastruktur.

Sepanjang tahun berjalan (YTD), IHSG sudah ambles sekitar -29,44%.


🏆 Top 10 Gainers

# Ticker Nama Harga Change% Sektor Volume
1 SCMA Surya Citra Media 216 +9.09% Barang Konsumen Non-Primer 2.7M
2 SAME Sarana Meditama Metropolitan 348 +8.75% Kesehatan 67K
3 COAL Black Diamond Resources 26 +8.33% Energi 145K
4 PURI Puri Global Sukses 143 +6.72% Properti & Real Estat 27K
5 TOOL Rohartindo Nusantara Luas 65 +6.56% Barang Konsumen Non-Primer 4.1M
6 JIHD Jakarta Int'l Hotels & Dev 448 +3.70% Barang Konsumen Non-Primer 11K
7 MGLV Panca Anugrah Wisesa 8.550 +3.64% Barang Konsumen Non-Primer 2K
8 DKHH Cipta Sarana Medika 58 +3.57% Kesehatan 2.2M
9 JSMR Jasa Marga (Persero) 2.920 +2.46% Infrastruktur 309K
10 MYOR Mayora Indah 1.855 +2.20% Barang Konsumen Primer 87K

Tak banyak sektor yang hijau hari ini. Gainers didominasi saham konsumen non-primer dengan SCMA memimpin (+9,09%) setelah bounce dari level rendah. Saham kesehatan (SAME, DKHH) juga terlihat defensif. JSMR (+2,46%) dan MYOR (+2,20%) jadi dua emiten lapis atas yang mampu bertahan.


🔻 Top 10 Losers

# Ticker Nama Harga Change% Sektor Volume
1 CTTH Citatah 119 -15.00% Perindustrian 198K
2 ARKO Arkora Hydro 4.640 -14.86% Infrastruktur 85K
3 BABY Multitrend Indo 172 -14.85% Barang Konsumen Non-Primer 32K
4 BIPI Astrindo Nusantara Infrastruktur 132 -14.84% Energi 8.0M
5 ENRG Energi Mega Persada 1.150 -14.81% Energi 948K
6 ELPI Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari 990 -14.66% Transportasi & Logistik 15K
7 ASLI Asri Karya Lestari 200 -14.53% Infrastruktur 15K
8 BUVA Bukit Uluwatu Villa 795 -14.52% Barang Konsumen Non-Primer 3.4M
9 LEAD Logindo Samudramakmur 102 -14.29% Energi 6.3M
10 BAIK Bersama Mencapai Puncak 570 -14.29% Barang Konsumen Non-Primer 614K

Sektor energi babak belur hari ini — 3 dari 10 top losers berasal dari sektor energi (BIPI -14,84%, ENRG -14,81%, LEAD -14,29%), dengan volume besar di BIPI (8,0M) dan LEAD (6,3M). BUVA juga mengalami tekanan jual massal dengan volume 3,4M. Sektor infrastruktur juga kena imbas dengan ARKO dan ASLI turun ~14,5%.


🌍 Net Foreign Flow

  • Net Foreign: -1.230,75 Miliar Rp (jual bersih asing)
  • Total Volume: 13,71 Triliun Rp
  • Rata-rata Perubahan: -3,73%
  • Total Tickers: 499 saham

Asing kembali melakukan aksi jual besar-besaran dengan net sell ~Rp 1,23 triliun. Ini merupakan salah satu hari outflow asing terbesar dalam beberapa waktu terakhir, mengindikasikan panic selling di tengah ketidakpastian MSCI dan geopolitik.


🏭 Sektor Performance

Sektor Jumlah Rata-rata Change% Net Foreign (M)
Kesehatan 21 -1.40% -37,0 M
Barang Konsumen Primer 71 -2.65% +10,9 M
Properti & Real Estat 41 -2.88% -33,2 M
Keuangan 50 -2.90% -410,5 M
Infrastruktur 42 -3.90% +134,3 M
Transportasi & Logistik 25 -4.17% -1,9 M
Barang Konsumen Non-Primer 84 -4.17% -78,3 M
Teknologi 22 -4.19% -48,3 M
Perindustrian 30 -4.25% -24,7 M
Barang Baku 52 -4.66% -430,3 M
Energi 61 -4.90% -311,8 M

Tidak ada satu pun sektor yang rata-rata positif hari ini. Kesehatan paling defensif (-1,40%), sementara Energi (-4,90%) dan Barang Baku (-4,66%) jadi sektor paling tertekan. Net foreign outflow terbesar dari sektor Barang Baku (-430 M) dan Keuangan (-410,5 M), sementara Infrastruktur justru mencatat inflow asing +134 M.


📰 Market News

🇮🇩 Berita Domestik

MSCI Tegaskan Bursa RI Tetap Emerging Market, Tapi Beri Catatan

MSCI mengumumkan hasil evaluasi tahunan 2026 Market Classification Review pada Rabu (24/6). Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori Emerging Markets. Namun MSCI memberikan catatan terkait likuiditas dan akses pasar yang perlu diperbaiki. IHSG sempat melesat >1% begitu pengumuman dirilis, meski akhirnya berbalik arah. Sumber: CNBC Indonesia

IHSG Anjlok 1,62% ke 6.002 pada Sesi I, BUMI/CUAN/AMMN Top Losers LQ45

Pada sesi I, IHSG anjlok 99,13 poin atau 1,62% ke 6.002,20. Saham-saham LQ45 seperti BUMI, CUAN, dan AMMN menjadi top losers, menekan indeks di tengah aksi jual besar-besaran. Sumber: Kontan

Saham-Saham Ini Banyak Diborong Asing Saat IHSG Terkoreksi Selasa (23/6)

Meskipun IHSG terkoreksi pada Selasa (23/6), sejumlah saham tercatat banyak diborong asing. Pelaku pasar wait-and-see menjelang pengumuman MSCI sambil mengakumulasi saham-saham tertentu di harga diskon. Sumber: Kontan

Saat Big Caps Tertekan, Saham Lapis Kedua Jadi Motor Penggerak IHSG

IHSG melemah 0,25% ke 6.101 pada Selasa (23/6), dengan YTD -29,44%. Tekanan datang dari saham big cap yang rontok, sementara saham lapis kedua mulai menjadi motor penggerak indeks. Investor beralih ke saham-saham berkapitalisasi kecil-menengah. Sumber: Kontan

IHSG Pangkas Pelemahan, Ditutup Turun 0,25%

IHSG ditutup melemah 0,25% ke 6.101 pada Selasa (23/6) di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menunggu pengumuman MSCI. Indeks sempat menyentuh level 6.050 sebelum memangkas pelemahan. Sumber: CNBC Indonesia


🌏 Macro & Global

Awas Perang Lagi! AS-Iran Ribut soal Nuklir, Netanyahu Cari Celah

Hubungan AS-Iran kembali memanas setelah kedua pihak saling bantah terkait izin inspeksi situs nuklir PBB. Ketidakpastian baru ini membayangi upaya pembukaan kembali jalur pelayaran global di Selat Hormuz. Netanyahu juga disebut masih mencari celah untuk memperluas operasi di Lebanon. Sumber: CNBC Indonesia

Netanyahu Makin Panas ke Trump, Israel Menuju Pecah Kongsi dengan AS

PM Israel Netanyahu mengatakan Israel harus mengurangi ketergantungan pada dukungan asing dan membangun sistem persenjataan independen. Ini menandai perbedaan pendapat paling serius antara pemerintahannya dan pemerintahan Trump sejak konflik Timur Tengah dimulai. Sumber: CNBC Indonesia

AS Longgarkan Sanksi Iran 60 Hari, Trump Peringatkan Teheran Patuhi Kesepakatan

AS memberikan kelonggaran sanksi terhadap Iran selama 60 hari menyusul perundingan damai sementara. Namun Trump menegaskan Washington siap mengambil tindakan jika Teheran melanggar kesepakatan. Ini menjadi sinyal positif untuk stabilitas Selat Hormuz. Sumber: Kontan

WTI Oil Drifts Below $72.00 — Iran Eases Grip on Strait of Hormuz

Harga minyak WTI terus turun ke bawah $72 per barel, level terendah sejak serangan UA-Israel ke Iran di akhir Februari. Berita peningkatan lalu lintas di Selat Hormuz menekan harga minyak — ekspektasi pasokan global membaik. Sumber: FXStreet

May PCE Expected to Show Rising Inflation at 4,1%

Inflasi PCE bulan Mei diprakirakan mencapai 4,1% — level tertinggi sejak April 2023. Ekspektasi ini memperkuat pandangan hawkish Fed yang bisa menahan suku bunga tinggi lebih lama, menjadi tekanan tambahan bagi emerging markets termasuk Indonesia. Sumber: Morningstar

Global Economy Endures War Shock — So Far

Lebih dari 3 bulan perang di Timur Tengah, ekonomi global masih bertahan. Harga komoditas, inflasi, dan kondisi keuangan terdampak namun belum menunjukkan sinyal perlambatan global. Momentum ekonomi AS dan emerging markets masih positif. Sumber: IOL Business Report

Oil Still Below $80; Dollar Gains, Stocks Drop as Fed Rate Bets Hit Tech Royalty

Saham global turun dipimpin penurunan saham teknologi termasuk SpaceX, karena ekspektasi kenaikan suku bunga Fed yang lebih tinggi. WTI minyak masih di bawah $80 — penurunan harga minyak biasanya positif untuk pasar, tapi investor kini fokus pada dampak kenaikan energi terhadap kebijakan bank sentral. Sumber: GMA News

What's Changed Since the Iran War? — Fed Rewired

Analis Cresset Capital mengungkap konsekuensi paling signifikan dari perang Iran adalah ulang (rewiring) ekspektasi kebijakan Federal Reserve. Perang telah memicu repricing di seluruh kelas aset — dari fixed income ke equity — karena jalur suku bunga berubah drastis. Sumber: Cresset Capital

Emerging Markets: Energy Shock, Not Catastrophe

Triodos IM dalam mid-year outlook menyebut bahwa meskipun perubahan global cepat — konflik lintas batas, krisis energi, volatilitas mata uang — emerging markets terbukti lebih resilien dari perkiraan. Ini sinyal positif untuk Indonesia di tengah tekanan. Sumber: Triodos IM


📝 Rangkuman

1. Kondisi Pasar Hari Ini — Darah di Mana-Mana

IHSG ambles 3,56% ke 5.884 — penurunan paling dalam dalam beberapa bulan terakhir. Setelah dibuka dengan sentimen positif dari pengumuman MSCI yang mempertahankan status emerging market Indonesia, IHSG sempat melesat lebih dari 1%, namun aksi jual besar-besaran terutama di sesi II membuat indeks longsor ke level 5.884. Volatilitas intraday mencapai ~5% dari titik tertinggi ke terendah — mencerminkan kepanikan pasar. Net foreign outflow mencapai Rp 1,23 triliun, menandakan modal asing masih hengkang dari bursa RI.

2. Sektor dan Saham yang Menonjol

Sektor energi adalah korban paling parah hari ini (-4,90% rata-rata), dengan BIPI (-14,84%), ENRG (-14,81%), dan LEAD (-14,29%) ambrol diiringi volume besar. Sektor barang baku (-4,66%) dan perindustrian (-4,25%) juga tertekan. Di sisi positif, hanya segelintir saham yang mampu bertahan — SCMA (+9,09%), SAME (+8,75%), dan saham kesehatan defensif lainnya jadi tempat pelarian. Sektor konsumen primer (-2,65%) relatif lebih defensif dibanding sektor lain.

3. Katalis & Sentimen yang Mempengaruhi Pasar

Tiga faktor utama menekan pasar hari ini: (1) Geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas — AS dan Iran bersitegang soal inspeksi nuklir, Netanyahu makin konfrontatif ke Trump; (2) Ekspektasi Fed hawkish — inflasi PCE diprakirakan naik ke 4,1%, memperkuat argumen suku bunga tinggi lebih lama, menekan emerging markets; (3) Ketidakpastian MSCI — meskipun status EM dipertahankan, pasar sempat euforia sesaat lalu berbalik jual, indikasi bahwa katalis positif sudah "priced in" dan pelaku pasar lebih fokus pada risiko ke depan. Harga minyak yang turun di bawah $72 (akibat pelonggaran Selat Hormuz) jadi satu-satunya sentimen positif, namun belum cukup untuk mengimbangi tekanan makro.


Report oleh Supri Spinach | 2026-06-24 19:01 WIB


comments (0)

loading comments...