📊 Market Overview — 29 Juni 2026
📈 IHSG
📉 IHSG: 5.820,79 (-1,28%)
IHSG kembali melanjutkan tren pelemahan pada Senin (29/6), ditutup di level 5.820,79 atau turun 75,34 poin (-1,28%) dari penutupan Jumat lalu di 5.896,13. Indeks sempat dibuka menguat 0,61% ke level 5.932, namun langsung berbalik arah ke zona merah hanya dalam hitungan menit dan terus melemah hingga sesi 2. Tekanan jual masih didominasi saham perbankan big cap (BBCA, BMRI, BBRI) dan dipicu sentimen negatif dari memanasnya kembali konflik AS-Iran di Timur Tengah, ekspektasi suku bunga The Fed yang hawkish, serta rupiah yang bertahan di kisaran Rp 17.900-an per dolar AS. Support terdekat di 5.736 dan resistance di 6.112.
🏆 Top 10 Gainers
| # | Ticker | Nama | Harga | Change% | Sektor | Volume |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | AYLS | Agro Yasa Lestari | 138 | +16,95% | Barang Baku | 260K |
| 2 | BTEK | Bumi Teknokultura Unggul | 10 | +11,11% | Barang Konsumen Primer | 307K |
| 3 | HOPE | Harapan Duta Pertiwi | 110 | +10,00% | Perindustrian | 68K |
| 4 | GRPM | Graha Prima Mentari | 264 | +10,00% | Barang Konsumen Primer | 47K |
| 5 | BAPA | Bekasi Asri Pemula | 260 | +9,24% | Properti & Real Estat | 793K |
| 6 | KREN | Quantum Clovera Investama | 12 | +9,09% | Teknologi | 72K |
| 7 | SQMI | Wilton Makmur Indonesia | 36 | +9,09% | Barang Baku | 84K |
| 8 | TAXI | Express Transindo Utama | 13 | +8,33% | Transportasi & Logistik | 134K |
| 9 | ELPI | Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari | 1.125 | +7,66% | Transportasi & Logistik | 9K |
| 10 | ENRG | Energi Mega Persada | 1.115 | +7,21% | Energi | 913K |
Gainers hari ini didominasi saham second/third liner dengan volume tipis — tipikal "jumping stock" di pasar yang sedang bearish. BAPA mencuri perhatian dengan nilai transaksi Rp 19,9 M di saham properti lapis 3. ENRG jadi satu-satunya gainer berkapitulasi besar (Rp 101 M) dengan net foreign buy Rp 4 M — terangkat oleh sentimen kenaikan harga minyak mentah.
🔻 Top 10 Losers
| # | Ticker | Nama | Harga | Change% | Sektor | Volume |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | BBRM | Pelayaran National Bina Buana Raya | 109 | -14,84% | Energi | 331K |
| 2 | COCO | Wahana Interfood Nusantara | 145 | -14,71% | Barang Konsumen Primer | 501K |
| 3 | GPSO | Geoprima Solusi | 348 | -14,71% | Perindustrian | 82K |
| 4 | UVCR | Trimegah Karya Pratama | 135 | -14,56% | Teknologi | 142K |
| 5 | KDTN | Puri Sentul Permai | 535 | -14,40% | Barang Konsumen Non-Primer | 26K |
| 6 | KBLV | First Media | 84 | -10,64% | Infrastruktur | 265K |
| 7 | BIRD | Blue Bird | 1.510 | -10,39% | Transportasi & Logistik | 39K |
| 8 | HBAT | Minahasa Membangun Hebat | 324 | -9,50% | Properti & Real Estat | 18K |
| 9 | MMIX | Multi Medika Internasional | 640 | -9,22% | Kesehatan | 295K |
| 10 | TRUE | Triniti Dinamik | 50 | -9,09% | Properti & Real Estat | 2.1M |
Losers hari ini lumayan brutal dengan 10 saham turun di atas 9%. TRUE memimpin volume dengan 2.1M saham diperdagangkan. MMIX mencatat net foreign sell Rp 3,2 M — yang terbesar di antara losers. BIRD di harga 1.510 patut dicermati — turun 10%+ dengan net foreign buy Rp 1,2 M (potensi asing akumulasi di harga diskon).
🌍 Net Foreign Flow
- Net Foreign: -Rp 852,39 Miliar (outflow)
- Total Nilai Transaksi: Rp 7,41 Triliun
- Rata-rata Perubahan: -0,80%
- Total Ticker: 499 saham
Net foreign outflow signifikan sebesar Rp 852 M — melanjutkan tren jual bersih yang sudah berlangsung sepanjang pekan lalu (Rp 3,43 T net sell pekan lalu). Sektor Keuangan menjadi kontributor outflow terbesar (-Rp 611,85 M), diikuti Infrastruktur (-Rp 89 M) dan Barang Baku (-Rp 86 M). Hanya Energi (+Rp 53 M) dan Transportasi (+Rp 0,43 M) yang mencatat inflow tipis.
🏭 Sektor Performance
| Sektor | Jumlah | Rata-rata Change% | Net Foreign (M) |
|---|---|---|---|
| Kesehatan | 21 | -0,06% | -Rp 35,36 M |
| Perindustrian | 30 | -0,29% | -Rp 14,48 M |
| Teknologi | 22 | -0,54% | -Rp 8,69 M |
| Barang Konsumen Primer | 71 | -0,61% | -Rp 30,74 M |
| Barang Baku | 52 | -0,65% | -Rp 86,11 M |
| Keuangan | 50 | -0,70% | -Rp 611,85 M |
| Transportasi & Logistik | 25 | -0,80% | +Rp 0,43 M |
| Energi | 61 | -0,88% | +Rp 53,16 M |
| Properti & Real Estat | 41 | -0,99% | -Rp 8,66 M |
| Barang Konsumen Non-Primer | 84 | -1,19% | -Rp 21,02 M |
| Infrastruktur | 42 | -1,24% | -Rp 89,08 M |
Semua sektor ditutup di zona merah — tidak ada yang selamat. Kesehatan paling tangguh (-0,06%) karena defensif. Infrastruktur, Consumer Non-Primer, dan Properti jadi sektor terburuk. Keuangan paling banyak dibuang asing (Rp 612 M outflow), melanjutkan tren pekan lalu. Energi unik: rata-rata turun tapi asing net buy Rp 53 M — tanda selective buying di saham energi terkait kenaikan harga minyak.
📰 Market News
IHSG Sesi 1 Turun Nyaris 1%, Saham Perbankan Jadi Pemberat
IHSG sesi 1 ditutup turun 0,97% ke 5.838,95 setelah sempat dibuka menguat. BBCA jadi pemberat utama (-14,05 poin), diikuti SMMA, BBRI, TLKM, BREN, BMRI, dan BRPT. DPR dan Pemerintah bersepakat fokus pengendalian inflasi dan daya beli masyarakat. Pemerintah akan kembalikan dana Rp 281 triliun ke Himbara. Sumber: CNBC Indonesia
IHSG Dibuka Menguat 0,61% Lalu Berbalik Merah
IHSG sempat dibuka naik ke 5.932 pada awal sesi, tapi kurang dari 30 menit berbalik arah ke zona merah. Pasar menanti data inflasi Juni, neraca perdagangan, dan laporan tenaga kerja AS. Ketegangan AS-Iran kembali memanas setelah serangan balasan di Selat Hormuz akhir pekan. Sumber: CNBC Indonesia
Volatilitas IHSG Menggila 3 Hari Berturut-turut
Rentetan volatilitas tinggi IHSG dimulai 24 Juni 2026, tepat saat pengumuman review MSCI. IHSG anjlok 3,56% hari itu, lalu lanjut tertekan. Analis menyebut ketidakpastian bertumpuk: MSCI, outflow asing, pelemahan rupiah, dan tekanan fiskal akibat pemangkasan anggaran MBG. Sumber: Kontan
IHSG Anjlok 4,55% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 486 Triliun
Dalam sepekan (22-26 Juni), IHSG longsor 4,55% dari 6.177 ke 5.896. Kapitalisasi pasar susut Rp 486 triliun. Outflow asing sepanjang pekan mencapai Rp 6 triliun. MSCI menetapkan Indonesia di emerging market dengan catatan yang perlu diperhatikan regulator. Sumber: Kontan
IHSG Berpotensi Pulih di Semester II, Simak Sentimenn Penggeraknya
Head of Research Kiwoom Sekuritas memperkirakan IHSG bisa rebound di semester II, didorong stabilisasi rupiah dan kembali masuknya dana asing. Target IHSG akhir tahun di kisaran 6.000-6.500, dengan bull case 6.500-7.000 jika reformasi MSCI berjalan kredibel. Sumber: Kontan
🌏 Macro & Global
Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Naik
AS dan Iran saling serang di sekitar Selat Hormuz akhir pekan lalu. AS menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, sementara Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Perundingan damai ditangguhkan. Harga minyak Brent naik 0,8% ke US$72,57/barel, WTI +1,1% ke US$70/barel. Gangguan pengiriman kembali meningkat meskipun terminal Aramco di Ras Tanura sudah beroperasi lagi sejak Jumat lalu. Sumber: Kontan | CNBC Indonesia
Rupiah Berpeluang Melemah, Dibayangi Dolar AS dan Geopolitik
Rupiah spot ditutup di Rp 17.922/USD pada Jumat (26/6), melemah 0,66% dalam sepekan. DXY menembus 101,74 — tertinggi sejak 13 Mei 2025. Pasar mencermati inflasi PCE AS yang naik ke 4,1% dan ekspektasi The Fed tetap hawkish di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Proyeksi rupiah Senin: Rp 17.850 - Rp 18.000/USD. Sumber: Kontan
Fed Hawkish Tekan Emerging Market Bonds
Sikap hawkish Chairman The Fed Kevin Warsh memangkas reli obligasi negara berkembang. Citigroup dan Goldman Sachs menyebut risiko utama kini beralih ke kebijakan The Fed. Korelasi yield Treasury AS dengan yield emerging market semakin meningkat. Dolar AS menguat dan menjadi headwind bagi posisi mata uang lokal negara berkembang. Sumber: Bloomberg/Financial Post
BI dan DPR Koordinasi Amankan Rupiah
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti membeberkan langkah BI menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas dalam rapat dengan DPR. Operasi likuiditas BI tembus Rp 1.000 T di akhir Juni. Wamenkeu Juda Agung pastikan defisit fiskal 0,7% dan tetap di bawah 3% sampai akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil pastikan HGBT tetap US$ 6,5-7/MMBTU dan gas pipa industri non-HGBT di Jawa US$ 9,5/MMBTU. Sumber: CNBC Indonesia
Bursa Asia Bergerak Beragam di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Bursa Asia-Pasifik mixed: Nikkei 225 -0,35%, Topix +0,43%, Kospi -2,29%, ASX 200 +0,41%. Investor mencermati potensi berlanjutnya konflik AS-Iran. Sementara Wall Street tutup pekan dengan rotasi keluar dari saham teknologi — S&P 500 -2%, Nasdaq -4,6%, tapi Dow Jones +0,6%. "AI fatigue" mulai melanda investor. Sumber: CNBC Indonesia
Harga LNG Terdampak Eskalasi Geopolitik, Gas Industri Domestik Tertekan
Konflik Timur Tengah mengerek harga LNG JKM lebih dari 60% — dari US$ 9-11,5 ke US$ 15-22,3/MMBTU. Harga gas industri non-HGBT di Indonesia naik dari US$ 14,9 ke US$ 21-25/MMBTU. Pemerintah evaluasi aturan HGBT dan meminta pemasok gas tidak melakukan penyesuaian harga. Nasib industri padat energi makin tertekan. Sumber: Kontan
📝 Rangkuman
Pasar kembali tertekan. IHSG melanjutkan tren bearish dengan koreksi 1,28% ke 5.820,79 — level terendah sejak krisis Mei-Juni 2026. Meski sempat dibuka optimis (+0,61%), sentimen cepat berubah ketika kekhawatiran geopolitik (konflik AS-Iran di Selat Hormuz) dan ekspektasi the Fed hawkish menggema. Net foreign outflow Rp 852 M menandakan asing masih enggan masuk, melanjutkan outflow Rp 71,68 T year-to-date. Seluruh sektor ditutup merah — tidak ada tempat berlindung yang aman hari ini.
Saham big cap tertekan, second liner volatile. BBCA, BMRI, BBRI, TLKM jadi pemberat utama indeks — saham perbankan big cap lanjut dijual asing (sektor keuangan outflow Rp 612 M). Di sisi gainers, saham-saham lapis 3 seperti AYLS (+16,95%), BTEK (+11,11%) dan BAPA (+9,24%) memimpin penguatan — namun dengan volume tipis yang mencerminkan spekulasi, bukan akumulasi institusional. ENRG (+7,21%) jadi catatan positif dengan net foreign buy dan nilai transaksi signifikan — energi mulai dilirik seiring kenaikan harga minyak.
Katalis negatif bertumpuk: MSCI, geopolitik, Fed, rupiah. Status Indonesia di emerging market MSCI dengan catatan, inflasi PCE AS yang kembali naik ke 4,1%, sikap hawkish The Fed di bawah Kevin Warsh, rupiah di kisaran Rp 17.900, dan memanasnya konflik AS-Iran jadi "badai sempurna" bagi IHSG. Di sisi domestik, pemangkasan anggaran MBG sebesar Rp 50 T dan kenaikan bunga penjaminan LPS jadi 3,75% menambah tekanan. Pasar masih menantikan data inflasi Juni, neraca perdagangan, dan PMI manufaktur — kunci arah IHSG jangka pendek. Support kritis di 5.736. Jika tembus, 5.400-5.600 sesuai skenario bear case analis bisa jadi realitas.
Report oleh Supri Spinach | 29 Juni 2026, 19:03 WIB