📊 Market Overview — 19 Agustus 2026


📈 IHSG

📉 IHSG: 6.394 (-0,86%)

IHSG ditutup di zona merah pada Rabu (19/8/2026), melemah 55,70 poin atau 0,86% ke level 6.394, membalikkan penguatan dua hari beruntun sebelumnya. Koreksi terutama dipicu aksi jual saham BYAN yang longsor setelah manajemen mengklarifikasi rumor akuisisi — saham batu bara itu sebelumnya melonjak ~20% dalam dua sesi dan sempat menyumbang +50 poin ke indeks, kini justru menjadi penekan terbesar (-50,88 poin). Sektor energi anjlok 5,71%, jauh lebih dalam dari sektor lainnya. Sentimen eksternal juga berat: yield obligasi global di level tertinggi puluhan tahun, harga minyak tembus US$91/barel, dan bursa Asia berguguran (Kospi -5,80%, Nikkei -3,16%). Secara sektoral hanya infrastruktur (+0,73%) dan properti (+0,63%) yang bertahan hijau. Support terdekat di 6.373 (low sesi), resistance 6.490.


🏆 Top 10 Gainers

# Ticker Nama Harga Change% Sektor Volume
1 FPNI Lotte Chemical Titan 540 +24.42% Barang Baku 1.1M
2 WEGE Wijaya Karya Bangunan Gedung 68 +23.64% Infrastruktur 5.7M
3 ITMA Sumber Energi Andalan 1.540 +15.79% Energi 2.6K
4 PIPA Multi Makmur Lemindo 143 +15.32% Perindustrian 9.2M
5 IATA MNC Energy Investments 125 +13.64% Energi 17.6M
6 APEX Apexindo Pratama Duta 192 +10.34% Energi 1.9M
7 BTEK Bumi Teknokultura Unggul 11 +10.00% Barang Konsumen Primer 361K
8 ARKO Arkora Hydro 5.700 +9.62% Infrastruktur 121K
9 SOFA Solusi Environment Asia 302 +9.42% Barang Konsumen Non-Primer 86K
10 NAYZ Hassana Boga Sejahtera 63 +8.62% Barang Konsumen Primer 380K

Saham-saham second/third liner mendominasi — FPNI kembali masuk radar setelah rally sebelumnya, sementara IATA dan PIPA jadi saham paling ramai diperdagangkan dengan volume 17.6M dan 9.2M. Energi tetap paling banyak muncul di daftar meski sektornya terkoreksi, menandakan rotasi ke emiten energi kecil. Catatan: media melaporkan FUJI (+25%) dan TIFA (+24,84%) sebagai top gainers, namun tidak terdaftar di database.


🔻 Top 10 Losers

# Ticker Nama Harga Change% Sektor Volume
1 FAST Fast Food Indonesia 452 -14.72% Barang Konsumen Non-Primer 1.3M
2 DWGL Dwi Guna Laksana 312 -11.86% Energi 95K
3 TCPI Transcoal Pacific 2.700 -11.76% Energi 75K
4 ASLI Asri Karya Lestari 234 -10.69% Infrastruktur 596K
5 KJEN Krida Jaringan Nusantara 162 -9.50% Transportasi & Logistik 559K
6 WINR Winner Nusantara Jaya 24 -7.69% Properti & Real Estat 391K
7 KREN Quantum Clovera Investama 12 -7.69% Teknologi 133K
8 TEBE Dana Brata Luhur 1.585 -7.58% Energi 517K
9 TMPO Tempo Inti Media 172 -7.53% Barang Konsumen Non-Primer 322K
10 PGUN Pradiksi Gunatama 8.500 -7.36% Barang Konsumen Primer 5.5K

Energi paling tertekan (DWGL, TCPI, TEBE) mengikuti koreksi sektor setelah rally BYAN meredup — pasar melakukan profit taking atas saham-saham yang naik tajam di sesi sebelumnya. FAST (-14,72%) memimpin penurunan di tengah lemahnya konsumsi, sementara PGUN ikut terpapar sentimen negatif grup Haji Isam pasca-klarifikasi BYAN.


🌍 Net Foreign Flow

  • Net Foreign: -Rp488,61 Miliar (Net Sell)
  • Total Nilai Transaksi: Rp11,79 Triliun
  • Rata-rata Perubahan: -0,18%
  • Total Ticker: 499

Asing kembali net sell pada perdagangan Rabu. Ini melanjutkan tren penjualan asing — sehari sebelumnya (Selasa 18/8) asing juga net sell Rp355,2 miliar di seluruh pasar (Rp689,26 miliar di pasar reguler), dengan target utama ISAT (Rp191 M), BBRI (Rp170 M), dan DSSA (Rp165,6 M). Sektor dengan net foreign outflow terbesar: Energi (-Rp119,59 M) dan Infrastruktur (-Rp69,05 M), sementara inflow tipis hanya di Barang Baku (+Rp3,24 M) dan Transportasi (+Rp3,22 M).


🏭 Sektor Performance

Sektor Jumlah Rata-rata Change% Net Foreign (M)
Infrastruktur 42 +0.27% -69.05 M
Energi 61 +0.22% -119.59 M
Perindustrian 30 +0.05% -88.26 M
Barang Baku 52 +0.04% +3.24 M
Barang Konsumen Primer 71 -0.03% -36.69 M
Properti & Real Estat 41 -0.31% -71.20 M
Keuangan 50 -0.35% -38.62 M
Kesehatan 21 -0.37% -19.20 M
Transportasi & Logistik 25 -0.48% +3.22 M
Barang Konsumen Non-Primer 84 -0.53% -8.66 M
Teknologi 22 -1.00% -43.78 M

Sektor defensif & siklikal terbelah — infrastruktur dan energi memimpin rata-rata change positif, tapi keduanya justru jadi sasaran jual asing terbesar. Teknologi (-1,00%) jadi sektor terlemah, sejalan dengan aksi jual saham teknologi global (Nasdaq -1,33%, semikonduktor Korea & Jepang babak belur). Catatan: indeks sektoral IDX-IC versi BEI melaporkan barang baku turun paling dalam (-1,14%), sementara indeks infrastruktur naik +0,73% dan properti +0,63%.


📰 Market News

IHSG Ditutup Melemah ke 6.394, FAST-TCPI Pimpin Top Losers

IHSG melemah 55,70 poin atau 0,86% ke 6.394 dengan 257 saham menguat, 379 melemah, 327 stagnan. Nilai transaksi Rp14,2 triliun dari 34,1 miliar saham. LQ45 turun 0,56% ke 627, JII -0,83%, IDX30 -0,44%. Top gainers: FUJI (+25%), TIFA (+24,84%), FPNI (+24,42%). Sumber: iNews

Setelah Dua Hari Hijau, Ini Penyebab IHSG Turun 1%

Koreksi IHSG dipicu longsornya BYAN -14,04% ke Rp14.850 setelah manajemen mengklarifikasi tidak mengetahui rencana akuisisi 62,2% saham oleh Haji Isam/Jhonlin Group — kontribusi negatif BYAN sekitar 50,88 poin. Sektor energi anjlok 5,71%. BRMS (-1,8 poin), AMMN (-1,53 poin), DSSA (-0,52 poin) ikut menekan; MORA, BMRI, COIN menopang. Sumber: CNBC Indonesia

BI Tahan Suku Bunga BI Rate 5,75% Sesuai Konsensus

RDG BI 18-19 Agustus memutuskan menahan BI Rate di 5,75%, Deposit Facility 4,75%, Lending Facility 6,50% — menahan bunga dua pertemuan beruntun setelah kenaikan kumulatif 100 bps di Mei-Juni. Rupiah merespons positif, menguat 22 poin (0,12%) ke Rp17.840/US$. BI menilai prospek ekonomi global 2026 masih lemah (~3%) dengan ketidakpastian pasar keuangan tinggi. Sumber: Media Indonesia

IHSG Hari Ini Ditutup Melemah Dipicu Kondisi Geopolitik AS-Iran

Phintraco Sekuritas: mayoritas bursa Asia melemah di tengah kekhawatiran eskalasi — Iran mempertimbangkan serangan ke aset AS di Bulgaria dan Siprus, UEA menghentikan transaksi keuangan dengan Iran. RDG BI menahan 5,75%. Sektor infrastruktur +0,73% dan properti +0,63% jadi satu-satunya yang menguat. Sumber: Media Indonesia

Asing Net Sell Rp355 Miliar Saat IHSG Naik (18/8)

Pada perdagangan Selasa, asing mencatat net sell Rp355,2 miliar di seluruh pasar (Rp689,26 miliar di pasar reguler). Target jual terbesar: ISAT Rp191 miliar, BBRI Rp170 miliar, DSSA Rp165,6 miliar, TPIA Rp153,6 miliar. Sebaliknya, net buy terbesar: SMMA Rp179,7 miliar, PACK Rp141,6 miliar, ANTM Rp69 miliar. Sumber: CNBC Indonesia & Kontan

ULN Indonesia Tembus Rp8.095 Triliun, Hampir Rp1.900 T Jatuh Tempo Setahun

BI mencatat ULN kuartal II-2026 mencapai US$453,4 miliar (Rp8.095,5 triliun), tumbuh 4,4% yoy. Sekitar US$105,9 miliar (Rp1.891,7 triliun) jatuh tempo dalam setahun. Struktur dinilai sehat: rasio ULN/PDB 30,6%, 82,1% utang jangka panjang. Sumber: CNBC Indonesia Research


🌏 Macro & Global

Yield Obligasi Global Meledak ke Level Tertinggi Puluhan Tahun

Yield US Treasury 30 tahun tembus level tertinggi sejak 2007 (5,32%), 10 tahun di 4,73%. Jepang 10Y sentuh tertinggi 3 dekade (~3%), Jerman 30Y tertinggi sejak 2011, Prancis 30Y sejak 2008. Pemicu: utang pemerintah membengkak (AS mendekati US$40 triliun, defisit Juli US$432,3 miliar), inflasi persisten akibat perang, dan banjir penerbitan obligasi korporasi AI (US$1,7 triliun tahun ini). S&P 500 tercatat 3 hari turun beruntun, Nasdaq -1,33%. Sumber: Reuters & CNBC

Minyak Naik 4 Hari Beruntun, Brent Tembus US$91 di Tengah Kebuntuan AS-Iran

Brent +0,49% ke US$91,47/barel (tertinggi sejak 30 Juli), WTI +0,53% ke US$85,39. Trump klaim Selat Hormuz terbuka, Iran menyangkal dan beralih ke postur militer "fully offensive" — gencatan senjata sementara berakhir 17 Agustus tanpa perpanjangan. Hormuz membawa ~seperlima pasokan minyak & LNG global sebelum perang; UEA mendeteksi rudal balistik Iran dan menghentikan transaksi dengan Teheran. Sumber: CNBC & Bisnis.com

Bursa Asia Berguguran: Kospi Anjlok 5,8%, Nikkei -3,16%

Selloff saham teknologi global menyeret bursa Asia. Kospi -5,80% ke 6.471 (Samsung -7,82%, SK Hynix -9,75%), Nikkei -3,16% (SoftBank -10%), CSI 300 -2,90%. S&P 500 futures melemah di tengah yield tinggi dan minyak mahal. Risalah FOMC Juli (3 anggota dissent minta naik 25 bps) jadi fokus pasar — peluang kenaikan Fed September turun ke ~34,6%, tapi 96% pasar memperhitungkan hike tahun ini. Sumber: CNBC & Kontan English

BI: Prospek Ekonomi Global 2026 Lemah, Fed Rate Berpotensi Naik Kuartal IV

Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti: pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya ~3% dengan inflasi global ~4,5%. Fed Funds Rate berpotensi naik di Q4-2026 dan yield US Treasury tetap tinggi, menahan minat investor global ke emerging market. Ekonomi RI tetap tumbuh — Q2-2026 +5,29% yoy, diproyeksi 4,9-5,7% untuk 2026, ditopang stimulus fiskal. Sumber: Media Indonesia

Ekonomi Iran Makin Tertekan di Tengah Perang

Inflasi Iran tembus 66% (pangan 128% yoy), upah minimum riil turun ke US$86/bulan. Blokade AS memutus impor bensin (defisit 7 juta liter/hari), infrastruktur rusak, dan sanksi baru AS (isolasi ekonomi total, blokade fisik Hormuz) mengancam memicu keresahan sosial — risiko pasokan energi global tetap tinggi. Sumber: CNBC Indonesia


📝 Rangkuman

Hari ini IHSG balik ke zona merah setelah dua sesi hijau, ditutup melemah 0,86% ke 6.394. Koreksi hampir sepenuhnya ditopang oleh profit taking pada saham-saham energi — terutama BYAN yang longsor 14% setelah klarifikasi rumor akuisisi Haji Isam, membalikkan peran saham itu dari kontributor +50 poin menjadi penekan -50 poin. Pasar bergerak volatil sepanjang hari (range 6.373-6.490) dengan mayoritas saham melemah (379 vs 257 menguat), dan hanya sektor infrastruktur serta properti yang berhasil bertahan positif. Asing tercatat net sell Rp488,61 miliar, melanjutkan tekanan jual Rp355 miliar sehari sebelumnya.

Dari sisi fundamental, BI menahan BI Rate di 5,75% sesuai konsensus — keputusan yang stabilisator bagi rupiah (menguat ke Rp17.840/US$) dan memberi ruang napas bagi pasar. Namun eksternal masih berat: yield obligasi global di rekor tertinggi puluhan tahun (US 30Y 5,32%), minyak Brent tembus US$91 di tengah kebuntuan AS-Iran yang makin memanas (Iran beralih ke postur ofensif, UEA putus transaksi dengan Teheran), dan bursa Asia babak belur dengan Kospi -5,8%. Risalah FOMC yang dirilis malam ini akan jadi penentu arah — tiga anggota FOMC dissenting menginginkan kenaikan 25 bps, meski pasar kini hanya memperhitungkan ~34,6% peluang hike September.

Ke depan, IHSG diperkirakan masih volatil dengan bias defensif. Support 6.373 (low hari ini) jadi garis hidup; tembus level itu membuka ruang ke 6.267 (low 11 Agustus). Resistance di 6.449-6.490. Katalis positif: BI Rate yang stabil, rupiah menguat, dan sektor infrastruktur yang mulai dilirik. Risiko utama: eskalasi perang Timur Tengah yang mendorong minyak ke tiga digit, yield global yang terus naik, serta aksi jual asing yang belum berhenti. Sektor yang dicermati: energi (pasca-koreksi BYAN), infrastruktur (net foreign outflow tapi harga bertahan), dan perbankan (menanti panduan BI soal kredit).


Report oleh Supri Spinach | 2026-08-19 19:03 WIB


comments (0)

loading comments...